Bukan Pemandangan Biasa
Seperti biasanya KRL ekonomi jurusan Depok-Bogor atau sebaliknya, aku tumpangi dengan perasaan yang sama dan terlihat seperti biasa pemandangan yang sama pula. Seperti hari-hari lainnya, pedagang, pengamen, peminta sumbangan dan pengemis bergantian mendekati penumpang. Tak ada yang aneh. Semua sudah menjadi sesuatu yang lumrah, wajar dalam keseharian warga Jabotabek dalam menaiki kereta ekonomi.
Aku biasanya duduk di bangku dekat pintu kereta agar mudah turun setibanya di stasiun nanti. Di ujung sebuah gerbong sambil membaca buku, menikmati sebentar angin pagi yang meniup lewat jendela. Sesekali aku mengangkat muka, sekedar memperhatikan para penumpang yang naik turun, atau sesekali menikmati alunan musik dari pengamen, dan kadang membeli beberapa barang-barang kecil seperti peniti dan lem dari pedagang yang berseliweran.
Suatu kali, pandanganku tertahan oleh sosok yang menyita perhatian. Di ujung lain gerbong yang saya naiki, sesosok balita laki-laki tengah tertatih menggerakkan sapu lidi. Dia bergerak maju dengan jalan jongkok, sebentar-bentar berhenti dan menatap ke sekeliling dengan mata sayu dan memelas, terkadang menarik-narik celana atau rok beberapa penumpang kereta. Dan ternyata, bukan aku saja yang terbersit perhatiannya oleh bocah kecil itu. Nyaris semua penumpang memperhatikannya dan mengulurkan receh ke dalam kantong permen yang dia tenteng. Siapa yang tega menyaksikan anak berusia sekitar 4 tahun ‘menyapu’ lantai gerbong demi menghidupi diri? Aku pun juga menyiapkan beberapa keping recehan…”bukan maksud ‘ujub”…. ( memang pada waktu itu adanya hanya segitu…(^_^)….)
Namun sampai anak kecil itu berada di hadapanku, tiba-tiba seorang anak perempuan yang sedari tadi duduk santai di pintu dekat tempat duduk saya, kira-kira seusia anak SMP, bangkit dan membentak si bocah laki-laki dan mengajaknya pergi. Si anak kecil itu tergesa-gesa bangun dan membiarkan sampah yang sudah disapunya terserak kembali dan segera menyusul ‘sang kakak’ ke gerbong sebelah. Aku mengikuti mereka dengan pandangan mata. Di gerbong sebelah, si anak perempuan duduk menyender di dinding sambungan antar gerbong sambil asyik menghitung uang yang dikumpulkan si anak kecil penyapu kereta itu. Tak peduli sekeliling, juga tak peduli dengan ‘adiknya’. Aku pun mengelus dada.
Nyeri…..perasaan hatiku pada kala itu! Banyak orang tua (dewasa) yang ‘memanfaatkan’ anak-anaknya untuk mendapat penghidupan, entah itu disuruh mengemis, mengamen, menyapu kereta, dan sebagainya. Karena banyak macam hal yang dilakukan mereka untuk memaksa si anak. Dan sekaligus ‘menjadikan’ seorang remaja putri SMP itu menjadi demikian tidak berperikemanusiaan terhadap ‘adik sendiri’ sungguh membuat miris hati. Bagiku inilah realita kehidupan masyarakat miskin yang ada di KRL Ekonomi.
Lain halnya jikalau menaiki Kereta Ekonomi AC yang harga tiketnya 4X lipat lebih mahal dibandingkan dengan harga tiket KRL Ekonomi biasa. Perasaanku sangat berbeda bila ku menaiki Ekonomi AC. Ahh,..lebih tentram rasanya hati ini. Masalah Pemandangan juga sangat berbeda dengan yang kualami di KRL Ekonomi biasa. Walau banyak orang yang berada disitu, tapi tak ada satupun keberisikan atau suara pedagang, pengamen, apalagi pengemis yang terdengar maupun melewati hadapanku. Seolah-olah suasananya memaksaku untuk memejamkan mata bila sudah berada di kursi kereta yang empuk itu. Tapi bila teringat tentang pemandangan di KRL Ekonomi, rasanya ingin sekali mensejahterakan mereka dengan upayaku. Namun butuh biaya besar dan sumbangsih juga dari pemerintah sekitar agar mereka diberikan keterampilan atau modal usaha untuk berdagang. Dengan cara itu mungkin merekapun akan menghentikan aktivitas semacam mengemis, mengamen, dan lainnya.
Untuk teman-teman semuanya, marilah kita sedikit prihatin dengan nasib mereka yang kurang beruntung. Ada saatnya kita juga pun harus turun tangan dan membantu mereka. Waduhhhh si Eva udah kayak kampanye aja mengajak serta merta teman-teman,..hehehhehe..(^-^),,..Moga bisa dijadikan iktibar bagi kita semua..

